Jumat, 18 April 2014
Habatnya remot control naga ini dilengkapi dengan mesin jet yang akan membuat naga terbang dengan kecepatan hingga 70 atau 112 kilometer per jam. Bukan hanya itu saja, karena mainan ini juga bisa menyemburkan api yang hanya bisa dijalankan pada saat mendarat dengan kata lain api tidak akan keluar ketika naga terbang, hal ini karena masalah keamanan.
Untuk Anda yang ingin memiliki mainan remot control naga ini Anda cukup mengeluarkan kocek yang cukup lumayan, pasalnya harganya sebesar 60 ribu USD atau dalam rupiahnya sekiat 683juta rupiah :D Bagaimana? Anda berminat dengan Mainan ini? (via)
Tag :// Informasi
Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berhasil
mengidentifikasi spesies baru ikan pari macan di perairan Indonesia.
Selama ini sudah ada tiga spesies ikan pari macan yang dikenali. Ikan
pari sulit dibedakan secara kasat mata karena fisiknya yang mirip.
Melalui metode pemetaan molekul deoxyribonucleic acid (DNA), peneliti
memastikan ada ikan pari macan keempat.
Tiga pari macan yang sudah dikenali adalah Himantura leoparda, Himantura uarnak, dan Himantura undulata. Adapun spesies baru ikan pari macan itu dinamai Himantura tutul atau ikan pari tutul kecil. Mirip dengan tiga kerabatnya, punggung ikan pari H. tutul dipenuhi corak mirip dengan pola kulit macan tutul.
Irma Shita Alyza, peneliti bioteknologi kelautan dan genetika molekuler dari Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, mengatakan jenis pari tutul kecil jelas dapat dipisahkan dari tiga kerabat terdekatnya yang banyak dijumpai di perairan tropis Indo-Pasifik Barat. Pola pada kulit punggung pari tutul kecil berbentuk segi empat dengan ukuran yang lebih kecil. “Posisi corak totolnya juga tidak beraturan,” kata Irma seusai pemaparan hasil temuan di gedung LIPI, Jakarta, Kamis, 3 April 2014.
Adapun kulit punggung pada tiga spesies pari macan umumnya berbentuk segi enam atau delapan yang posisinya teratur. “Mirip seperti pola pada sarang lebah,” ujar Irma. Penelitian termasuk pemeriksaan habitat pari tutul berlangsung sejak 2006. Irma menggunakan analisis pemetaan DNA untuk memastikan pari tutul kecil merupakan spesies baru. Ada dua gen yang diambil sebagai penanda genetik ikan tersebut. Penelitian itu berlangsung di Indonesia dan Prancis. “Alat untuk memeriksa berapa persen hubungan gen milik induk dengan keturunannya ada di sana,” kata Irma.
Pari tutul kecil ditemukan di empat lokasi berbeda, yaitu di Laut Jawa, perairan utara Bali, perairan selatan Jawa, dan Selat Sunda. “Saat ini sedang ada penelitian untuk mengetahui apakah ada persebaran pari tutul kecil di luar empat lokasi itu,” kata Irma. Hasil penelitian yang dikerjakan bersama Prancis tersebut sudah dimuat dalam jurnal Comptes Rendus Biologies pada Juli 2013.
Pari tutul kecil bisa tumbuh dengan lebar mencapai 1,5 meter. Ikan ini baru bisa menghasilkan anak pada usia 5-10 tahun dengan jumlah yang sedikit. Meski belum masuk status hewan terancam, keberadaan pari tutul kecil bisa terdesak oleh penangkapan yang berlebihan. “Masih bisa dimanfaatkan tapi dengan pengawasan ketat,” kata Irma.
Tiga pari macan yang sudah dikenali adalah Himantura leoparda, Himantura uarnak, dan Himantura undulata. Adapun spesies baru ikan pari macan itu dinamai Himantura tutul atau ikan pari tutul kecil. Mirip dengan tiga kerabatnya, punggung ikan pari H. tutul dipenuhi corak mirip dengan pola kulit macan tutul.
Irma Shita Alyza, peneliti bioteknologi kelautan dan genetika molekuler dari Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, mengatakan jenis pari tutul kecil jelas dapat dipisahkan dari tiga kerabat terdekatnya yang banyak dijumpai di perairan tropis Indo-Pasifik Barat. Pola pada kulit punggung pari tutul kecil berbentuk segi empat dengan ukuran yang lebih kecil. “Posisi corak totolnya juga tidak beraturan,” kata Irma seusai pemaparan hasil temuan di gedung LIPI, Jakarta, Kamis, 3 April 2014.
Adapun kulit punggung pada tiga spesies pari macan umumnya berbentuk segi enam atau delapan yang posisinya teratur. “Mirip seperti pola pada sarang lebah,” ujar Irma. Penelitian termasuk pemeriksaan habitat pari tutul berlangsung sejak 2006. Irma menggunakan analisis pemetaan DNA untuk memastikan pari tutul kecil merupakan spesies baru. Ada dua gen yang diambil sebagai penanda genetik ikan tersebut. Penelitian itu berlangsung di Indonesia dan Prancis. “Alat untuk memeriksa berapa persen hubungan gen milik induk dengan keturunannya ada di sana,” kata Irma.
Pari tutul kecil ditemukan di empat lokasi berbeda, yaitu di Laut Jawa, perairan utara Bali, perairan selatan Jawa, dan Selat Sunda. “Saat ini sedang ada penelitian untuk mengetahui apakah ada persebaran pari tutul kecil di luar empat lokasi itu,” kata Irma. Hasil penelitian yang dikerjakan bersama Prancis tersebut sudah dimuat dalam jurnal Comptes Rendus Biologies pada Juli 2013.
Pari tutul kecil bisa tumbuh dengan lebar mencapai 1,5 meter. Ikan ini baru bisa menghasilkan anak pada usia 5-10 tahun dengan jumlah yang sedikit. Meski belum masuk status hewan terancam, keberadaan pari tutul kecil bisa terdesak oleh penangkapan yang berlebihan. “Masih bisa dimanfaatkan tapi dengan pengawasan ketat,” kata Irma.
Tag :// Informasai

