Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berhasil
mengidentifikasi spesies baru ikan pari macan di perairan Indonesia.
Selama ini sudah ada tiga spesies ikan pari macan yang dikenali. Ikan
pari sulit dibedakan secara kasat mata karena fisiknya yang mirip.
Melalui metode pemetaan molekul deoxyribonucleic acid (DNA), peneliti
memastikan ada ikan pari macan keempat.
Tiga pari macan yang sudah dikenali adalah Himantura leoparda,
Himantura uarnak, dan Himantura undulata. Adapun spesies baru ikan pari
macan itu dinamai Himantura tutul atau ikan pari tutul kecil. Mirip
dengan tiga kerabatnya, punggung ikan pari H. tutul dipenuhi corak mirip
dengan pola kulit macan tutul.
Irma Shita Alyza, peneliti bioteknologi kelautan dan genetika
molekuler dari Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, mengatakan jenis pari
tutul kecil jelas dapat dipisahkan dari tiga kerabat terdekatnya yang
banyak dijumpai di perairan tropis Indo-Pasifik Barat. Pola pada kulit
punggung pari tutul kecil berbentuk segi empat dengan ukuran yang lebih
kecil. “Posisi corak totolnya juga tidak beraturan,” kata Irma seusai
pemaparan hasil temuan di gedung LIPI, Jakarta, Kamis, 3 April 2014.
Adapun kulit punggung pada tiga spesies pari macan umumnya berbentuk
segi enam atau delapan yang posisinya teratur. “Mirip seperti pola pada
sarang lebah,” ujar Irma. Penelitian termasuk pemeriksaan habitat pari
tutul berlangsung sejak 2006. Irma menggunakan analisis pemetaan DNA
untuk memastikan pari tutul kecil merupakan spesies baru. Ada dua gen
yang diambil sebagai penanda genetik ikan tersebut. Penelitian itu
berlangsung di Indonesia dan Prancis. “Alat untuk memeriksa berapa
persen hubungan gen milik induk dengan keturunannya ada di sana,” kata
Irma.
Pari tutul kecil ditemukan di empat lokasi berbeda, yaitu di Laut
Jawa, perairan utara Bali, perairan selatan Jawa, dan Selat Sunda. “Saat
ini sedang ada penelitian untuk mengetahui apakah ada persebaran pari
tutul kecil di luar empat lokasi itu,” kata Irma. Hasil penelitian yang
dikerjakan bersama Prancis tersebut sudah dimuat dalam jurnal Comptes
Rendus Biologies pada Juli 2013.
Pari tutul kecil bisa tumbuh dengan lebar mencapai 1,5 meter. Ikan
ini baru bisa menghasilkan anak pada usia 5-10 tahun dengan jumlah yang
sedikit. Meski belum masuk status hewan terancam, keberadaan pari tutul
kecil bisa terdesak oleh penangkapan yang berlebihan. “Masih bisa
dimanfaatkan tapi dengan pengawasan ketat,” kata Irma.
